Pernikahan perempuan Indonesia dengan pengungsi Rohingya: Terlilit utang, stigmatisasi, dan status anak ‘tanpa ayah’

Pernikahan perempuan Indonesia dengan pengungsi Rohingya: Terlilit utang, stigmatisasi, dan status anak ‘tanpa ayah’

Ulfa, perempuan asal Medan, Sumatra Utara, tak pernah merasa ragu saat menikah siri dengan Korim Syah, seorang pengungsi Rohingya di tahun 2014 silam. Mereka kini telah memiliki dua orang anak.

Korim Syah adalah satu dari 10 pengungsi Rohingya yang sudah tinggal di Medan selama belasan tahun. Mereka memiliki banyak batasan dalam menjalani hidup di Indonesia karena berstatus sebagai pengungsi.

Dengan status sebagai pengungsi, Korim bersama belasan ribu pengungsi lainnya dilarang bekerja di Indonesia. Ulfa juga mengaku tidak bisa bekerja karena merawat anaknya yang masih menyusui. Keluarga ini pun bergantung pada bantuan rutin sebesar Rp1,25 juta per bulan yang diberikan badan PBB kepada Korim karena statusnya sebagai pengungsi.

Simak juga:

Jumlah itu, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Imbasnya, keluarga Korim kini terlilit utang. Tidak hanya itu, Ulfa juga mengaku kerap mendapat stigma dari lingkungan sekitar.

"Salahkah saya mencintai suami saya? Dia juga manusia. Saya tidak melihat suku, ras atau apa, tapi dari kemanusiaan. Apakah dia baik, punya sopan santun, dan mencintai saya serta keluarga saya," ucap Ulfa Aulia Khairani.

Ulfa tak sendirian. Setidaknya ada 10 perempuan Indonesia yang menikah siri—perkawinan yang tidak tercatat secara resmi di KUA—dengan para pengungsi Rohingya yang tinggal di penampungan pengungsi Rohingya di Hotel Pelangi, Kota Medan.

Dari pernikahan itu lahir 29 anak berdarah Indonesia yang disebut pengamat menghadapi 'kerentanan berlapis' dari segi akses kesehatan dan pendidikan sehingga membutuhkan bantuan pemerintah.

Ini kisah mereka.

Video produksi: Raja Eben Lumbanrau dan Dwiki Marta